Perjalanan hidup
Masa Kecil KH. Mohammad
Bahruddin
KH. Mohammad Bahruddin
Kalam kecil belajar dirumah diajar langsung oleh ayahnya sendiri dan guru-guru
yang lain. Selanjutnya ketika menginjak dewasa beliau menuntut ilmu syari’at
kepada almukarom Kyai Din, dusun Kemacuk-Kertosono-Nganjuk, kemudian berlanjut
kepada Kyai Hasyim (Alm), dusun Banaran disebelah timurnya pasar Kertosono dan
kepada Kyai Nuhin (Alm) Juwet-Porong.
Kemudian pada waktu
beliau belajar (topo), mengalami beberapa riwayat antara lain, pada waktu pagi
hari ± jam 06.30 pagi, beliau dituduh tetangganya membunuh kambingnya, tetapi
ternyata selang beberapa waktu kemudian, beliau melihat kambing tersebut keluar
dari kandangnya. Itu riwayat pada waktu beliau di Juwet-Porong diwaktu masih
kecil.
Masa Perjuangan KH. Mohammad
Bahruddin dalam Menumpas Belanda
Pada waktu Indonesia
dijajah oleh Belanda KH. Mohammad Bahruddin ikut berjuang untuk menumpas
Belanda di Kertosono-Nganjuk tepatnya pada tahun 1948 M. dalam penyerbuan
tersebut beliau bergabung dengan santri pondok Nglawak, Kertosono-Nganjuk.
Dimana pada waktu itu proses belajar mengajar pondok dihentikan, karena
konsentrasi mengusir penjajah Belanda. Dan agresi tersebut dipimpin langsung
oleh Pak Dahlan, dia selain sebagai tentara juga kepala pondok. Pernah sutu
kali beliau dengan teman-temannya memutus jembatan yang ada di dusun Printer,
timurnya Baron-Kertosono-Nganjuk dengan tujuan membuat bahaya pada orang-orang
Belanda.
Kemudian suatu ketika,
waktu Belanda membenahi Jembatan, ada seorang pemuda datang untuk melihat dari
dekat, dan setelah dekat, Belanda langsung melepaskan tembakan tepat pada
perutnya, seketika pemuda tersebut mati ditempat.
Strategi penyerangan
yang dilakukan oleh KH. Mohammad Bahrudin dan teman-temannya adalah gerilya,
dimana pada suatu malam beliau dan teman-temannya merencanakan menghadang
praoto yang membawa Kompeni Belanda yang lewat di jurusan Jombang-Nganjuk.
Kemudian beliau dan teman-temannya musyawarah untuk menentukan langkah-langkah
penyerangan dan diputuskan dengan cara menggantung “Men”, yang digantungkan
diatas pohon Trembesi, yang condong kejalan. Kemudian yang bertugas naik keatas
pohon tersebut, untuk memasang “Men” adalah Misbarin, dari dusun Pelem. Dan
setelah terpasang “Men” tersebut, ditarik dengan menggunakan kawat kecil yang
berjarak ± 40 m/50 m, dengan berat 25 kg, kemudian sewaktu-waktu praoto Kompeni
Belanda lewat, kawatnya langsung diputus Cek ngrutuhi Londo (menjatuhi
Belanda), kemudian beliau dan teman-temannya menghajar Kompeni Belanda dengan
menggunakan granat nanas. Kemudian beliau dengan teman-temannya di atur untuk
tiarap di pinggir jalan, mulai sore sampai pagi, dengan tujuan untuk
menjalankan agresi kepada Belanda, akan tetapi ternyata setelah ditunggu-tunggu
tidak ada praoto Kompeni Belanda yang lewat sama sekali. Dan teman beliau yang
dipenggal oleh Belanda bernama Miftahun.
Pada waktu memikul
peralatan perang, beliau dan teman-temannya melewati kuburan yang besar dan
rimbun sekali, dan terdengar suara terkikih menakutkan. Tetapi beliau dan
teman-temannya malah senang sekali, bertemu dengan tempat yang sangat rimbun
dan gelap tersebut, karena menurut beliau dan teman-temannya, tempat semacam
itu bagaikan hotel, yang bisa dijadikan sebagai tempat persembunyian dan tempat
berlindung yang aman, sedangkan suara terkikih itu dianggap sebuah hiburan yang
menyenangkan.
Teman KH. Mohammad
Baruddin yang terbunuh karena di jebak oleh Belanda bernama Mustakim, pada
waktu agresi di Kertosono (tahun 1948), tidak diketahui tentang kabar beritanya
sampai sekarang (1980), dan Insya Allah 90 % meninggal dunia.
Suatu ketika beliau di
tugaskan oleh pimpinannya untuk menyelidiki daerah Pelem, tetapi naas beliau
tertangkap Belanda dan Cakra. Kemudian beliau di tahan selama sehari dipabrik
Sentanan Mojokerto, dan ± jam 10.00 siang beliau di datangi ayahnya, pada waktu
itu ayahnya berumur ± 75 tahun, kemudian berkata kepada beliau, begini
kata-katanya “Nak sak waged-waged sampean nak, sampean moco nopo-nopo mangken,
mangken dalu, mantun maghrib Welandi kalian Cakra kalian mbeto lampu strongking
kalian mbeto senjata…..niki, mangken sonten, narap dateng sampean lan wonten
ingkang dipun taboki lan dipun jejek, lan dipun banting-banting setengah mati
niku” setelah selasai berkata demikian, ayahnya pergi.
Ternyata benar yang
dikatan ayahnya tadi, dimana setelah maghrib beliau melihat kerlap-kerlip
cahaya lampu dari arah timur, melihat hal itu, beliau mencoba melompat tembok
pabrik, untuk menghindari Belanda tersebut, akan tetapi usahanya gagal, karena
Belanda dan Cakra sudah dekat. Kemudian beliau dan teman-temannya di kumpulkan
dan di hajar satu persatu dengan cara dipukuli botol perutnya, disamping itu
juga ada yang disuluti rokok perutnya, tetapi perut KH. Mohammad Bahruddin
tidak sampai disuluti rokok. Pada waktu itu seakan-akan beliau merasa sudah
hampir mati. Dan sebagian lagi ada yang di pukuli, di banting, sampai
berdarah-darah mulutnya. Akhirnya pada waktu sudah setengah mati karena
dihajar, beliau dan teman-temannya diborgol dan didudukan untuk dimintai maaf,
bigini minta maafnya “saya minta maaf”, kemudian beliau sangat marah, dan
dalam hatinya beliau bergumam “انا لله وان اليه راجعون”
“Cakra kurang ajar, awas kon
onok jobo limpe, payu kon”.
Kemudian besok paginya
beliau dan teman-temannya, dipindah ketahanan kantor polisi, selama 5 hari
disana, dan suatu ketika pada waktu antri makan ditahnan, ada salah satu teman
beliau yang kurang tertib, sampai-sampai terjadi dorong-dorongan, melihat
kejadian itu Belanda langsung bertindak, untuk menghajar orang tersebut dengan
menggunakan gagang tembak sekuat-kuatnya“Pruaaaaaak” sampai
kejang-kejang sekarat, hal itu sesuai dengan sabda nabi Muhammad SAW.
حب الدنيا رئيس الخطيئة
“Menyukai dunia itu jadi
penyebab timbulnya kesalahan”.
Begitu juga firman Allah
dalam al qur an:
بسم الله الرحمن الرحيم والذين أمنو أشد حبا لله
“Orang yang beriman kepada
allah itu sangat besar sekali cintanya kepada allah” (Q.S.
al Baqarah : 164).
Itu merupakan perintah
Allah, semoga kita semua selamat baik didunia maupun diakhirat nanti. Dan
setiap orang pasti menyukai harta/dunia, karena mau bangun masjid,
menyekolahkan anak, bangun pondok dan madrasah semua dengan harta. Cumak senang
terhadap dunia menurut KH. Mohammad Bahruddin, di ibaratkan padi hanya
setengah ebor, dan kalau senang kepada allah diibaratkan padi
setengah ebor lebih. Dari itu marilah kita meningkatkatkan
rasa senang kita kepada allah agar kita memperoleh ridlonya, amin3x yarobbal ‘alamin.
KH. Mohammad Bahruddin
pada waktu dipenjara di Mojokerto tidak bisa menjalankan sholat, setiap kali
beliau mendengar suara adzan atau suwara ketongan pertanda waktu sholat, beliau
tengkurap, sambil menangis, hal itu dilakukan biar tidak diketahui
teman-temannya. Jatah makan beliau di penjara sehari semalam hanya dua kali,
dengan ukuran satu telapak tangan, itupun tidak penuh, persis seperti
makanannya kucing. Dan sewaktu dihajar Belanda dan Cakara dipabrik Sentanan,
beliau banyak membaca sholawat, karena sholawat, menurut KH. Mohammad Bahruddin
sangat ampuh. Sholawat tersebut dibaca dalam hatinya, kalau digambarkan seperti
air mendidih.
Sewaktu ada roling atau
pengusutan, kemudian beliau mengajak teman-temannya untuk mengambil air wudlu,
dengan harapan Allah berkenan mengeluarkan dari penjara. Sabagian teman beliau
ada yang mau dan sebagian tidak, kemudian yang mau beliau ajak wudlu bisa
keluar dari penjara, dan yang tidak mau diajak mengambil air wudlu tidak bisa
keluar. Melihat beliau bisa keluar, teman-teman beliau menangis dengan sangat.
Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam al qur an:
ان الله يحب التوبين ويحب المتطهرين
“Sesungguhnya Allah mencintai
orang-orang yang bertaubat dan orang-orang yang suci” (Q.S.
al Baqarah : 229). Pada waktu beliau keluar dari penjara terasa tidak menginjak
bumi karena sangat gembiranya.
Pada waktu KH. Mohammad
Bahruddin mengahadap Belanda, beliau selalu memperbanyak membaca sholawat,
kalau digambarkan seperti air yang mendidih. Karena beliau merasa memperoleh
borokhah dari bacaan sholawat nabi Muhammad SAW, terbukti dalam hati beliau
tidak ada rasa takut sama sekali, tetapi sebelum membaca sholawat hati beliau
terasa susah yang amat sangat, yang tidak dapat diukur.
D. Uswah KH. Mohammad Bahruddin
Setelah keluar dari
penjara pada waktu itu, beliau masih berada dipondoknya kyai Hasyim,
Banaran-Kertosono-Nganjuk, kemudian beliau sowan ke orang
tuanya, setelah selasai sowan, beliau
mohon diri untuk kembali lagi kepondok, tetapi ayahnya meminta agar menunda
keberangkatannya selama 4 hari lagi, hati beliau, bergejolak antara mengikuti
perintah orang tua atau tidak, akhirnya beliau putuskan untuk menguikuti
perintah ayahnya. Karena beliau ingat firman Allah dalam al qur an:
واعبدالله ولاتشرك به شيئا وبالوالدين احسانا بسم الله الرحمن الرحيم
“Kita semua diperintahkan
menyembah kepada allah dan dilarang menyekutukan-Nya dengan sesuatu, dan allah
memerintahkan kepada kita semua agar berbuat baik kepada kedua orang tua
sekalian” (QS. an Nisa’ : 35).
Menurut KH. Mohammad
Bahruddin taat kepada kedua orang tua itu merupakan sebuah keharusan dan jangan
sampai kita menyakiti hati keduanya. Sehingga beliau tidak jadi berangkat
kepondok. Karena, kok seumpama beliau jadi berangkat ke pondok, maka mulut dan
hati beliau dihukumi terkena najis mugholadhoh yaitu najisnya anjing dan babi,
pemahaman tersebut didasarkan pada kitab ta’limul Muta’alim,
أن يخترج عن الا خلاق الذميمة فانها كلب معنوية (تعليم المتعلم)
Kita semua diperintah
untuk senantiasa menjaga akhlak atau budi pakerti yang tidak sesuai dengan
syara’ yakni dengan syari’at, karena akhlak yang tidak sesuai dengan syara’, itu
termasuk anjing yang bersemayam didalam dada, seumpama dilepas anjing tersebut
sangat liar. Dan beliau ingat mulai sejak kecil sampai besar, itu tidak pernah
menyakiti hati kedua orang tuanya. Seingat beliau, pernah melanggar dua kali,
yang mana beliau hampir tidak kuat untuk menahan larangan orang tuanya. Salah
satunya, pada waktu agresi tahun 1945 M, beliau mau ikut menyerbu Belanda ke
Surabaya, dan sudah daftar, tetapi ibunya tidak meridloinya dan menangis.
Kemudian beliau ingat perang besar membela agama islam itu hukumnya fardlu
kifayah, yaitu kalau sudah ada yang berangkat, berarti sudah gugur
kewajibannya. Dan pada waktu itu sudah ada yang berangkat yaitu kakaknya beliau
yang bernama Mustajib. Kang Mustajib ini ikut menyerbu di dusun Damargi sekitar
daerah Tebel-Buduran.
KH. Mohammad Bahruddin
menikah dengan ibu Safurotun, tanpa peningset, karena beliau tidak diberi
peningset oleh orang tuannya dan pernikahan beliau merupkan kehendak orang tua
sama orang tua.
KH. Mohammad Bahruddin
mengabdi dan tholabul ilmi kepada orang tua Ngoro ± 7 tahun. Kemudian selama 4
tahun beliau di uji tidak boleh makan nasi. Hal itu Sesuai dengan keterangan
dalam kitab Ikhya’ Ulumuddin (Jld. 3. Hal. 83) yang menjelaskan tentang tirakat
tidak makan nasi. Kemudian beliau diuji lagi pada waktu menjadi penganten yaitu
dilarang tidur dirumah, semalam suntup, selama 4 tahun, beliau pernah tidur
dirumah semalam suntup ± 6 hari, pada waktu di Juwet, cumak pada waktu di Juwet
bertepatan mbah Nyai Safurotun bendero abang (red.
Halangan), berarti tirakat beliau terus-terusan. Dan tahun sekarang ini menurut
beliau berjalan cepat sekali, seperti blarak kobong, kratak-kratak
isuk kratak-kratak.
Tunduk kepada orang tua
atau kepada orang lain, semuanya itu harus didasari dengan ilmu, apabila
perintah dan larangan syari’at tersebut, sesuai dengan syari’at boleh kita
ikuti, namun ketika tidak sesuai, tidak usah kita ikuti. Hal itu sesuai dengan
keterangan dalam kitab Ta’limul Muta’alim
لاطعة للمخلوق فى معصية الخالق (تعلم المتعليم)
“Tidak ada berbakti
kepada makhluk didalam maksiat kepada allah. Jadi jelas apa yang menjadi
larangan allah tidak perlu di ikuti” (Ta’limu al Muta’alim).
E. KH. Mohammad Bahruddin
Sebagai Guru Mursyid
KH. Mohammad Bahruddin
belajar ilmu thoriqoh di pondok Kyai Imam As’ari Ngoro-Mojosari-Mojokerto
selama ± 20 hari, kemudian beliau dinikahkan dengan putri Kyai Imam As’ari yang
bernama Siti Safurotun pada tahun 1950 M. Waktu itu beliau masih berumur 24 tahun.
Kemudian tahun 1953 beliau dikaruniai putra yang kemudian diberi nama Mohammad
Sholeh. Selain itu beliau juga mendalami ilmu thoriqoh ke ayahnya sendiri
yaitu Kyai Kalam di Juwet-Porong-Sidoarjo.
Pada waktu kyai Sholeh
masih berumur satu tahun, beliau tinggal kepondoknya almukarom kyai Munawir
Tegalarum-Kertosono-Nganjuk, perlu untuk ngaos Thoriqoh
dan lain sebagainya. Pertama, beliau ngaos 40 hari,
setelah selesai beliau mohon pamit untuk pulang, karena sudah sangat rindu
kepada istrinya, tetapi kyai Munawir tidak memperkenankannya, walaupun hanya
dua hari, justru kyai Munawir menganjurkan agar beliau munggah ngaos lagi 60 hari, seketika itu hati beliau
terasapoyang-payingan sekali, ibaratnya kok
seumpama dicancangi cagak pasti lepas, berhubungdicancang ilmu akhirnya tidak bisa berbuat
apa-apa, kemudian hati beliau ingat kalau istiqomah perkataannya guru itu wajib
yaitu fardlu ‘ain. Menurut beliau kok seumpama jadi pamit dengan lisan dan
hati, maka beliau hukumi terkena najis mugholadoh yaitu najisnya anjing. Pesan
beliau hati kita semua jangan sampai dihinggapi kata-kata “perkoro guru golek maneh”, ibaratnya nyandung nyampar,
kata-kata tersebut menunjukkan kalau su’ul khotimah.
Guru Mursyid menurut KH.
Bahruddin, harus mempunyai ijazah izin dan ijazah mursyid. Izin itu dari guru
dan ijazah itu tanda tangan guru, sesuai dengan sabda nabi Muhammad SAW.
لكل شيئ عالم. كلام امام صالح
“Semua perkara itu ada
tanda-tandanya (Tanqikhu al qoul, Hal. 25).
Dan Gonyeh (meremehkan guru), itu menunjukkan kalau
su’ul khotimah.
Tanda-tandanya orang
beriman yaitu menjalankan sholat, karena bagi kita tidak tahu didalamnya hati.
Tahu kita kalau orang beriman ya menjalankan sholat.
Pada waktu beliau (red.
Ngaos Thoriqoh), di Pondoknya Almukarom Kyai Munawir Tegalarum- Nganjuk, selama
½ tahun dengan cara nerus yaitu
naik turun-naik turun, sampai selesai. Kemudian beliau mendapatkan ijazah
mursyid tepatnya pada tahun 1955. setelah itu, beliau di perintahkan untuk
pulang ke orang tua Juwet-Porong dan orang tua Ngoro-Mojosari-Mojokerto.
Ijazah mursyid KH.
Mohammad Bahruddin dari dua guru sekaligus yaitu kyai Munawir
Tegalarum-Kertosono-Nganjuk dan bapak Kyai As’ary Ngoro-Mojosari-Mojokerto.
F. Proses Pencarian Tempat dan
Kondisi Masyrakat sebelum ada Pondok Pesantren
KH. Mohammad Bahruddin
di pondok Ngoro ± 7 tahun, 4 tahun awalnya, sampai kemudian 7 tahun. Selama
disana beliau bertugas ngrekso jam
sholat, kentong, dan adzan. Kecuali kalau ‘asar. Selain itu beliau juga yang
memelihara masjid, kamar mandi dan lain-lainnya. Kemudian almarhum bapak Imam
As’ary memerintahkan beliau agar mencari tempat, ke dusun Pucang, tapi gagal,
kemudian mencari tempat lagi ke Carat dengan ditemani tiga orang yaitu kyai
Ahmad Na’in, pak Qozin, dan pak Sapari, mereka berasal dari dusun
Purworejo-Mojosari-Mojokerto.
Pada waktu ke Carat
beliau dapat tanah miliknya pak Bawi atau mbok Runti Mojosari-Mojokerto. Pada
waktu mengukur tanah, beliau ditemani oleh pak Swaten, pada saat itu, beliau
berkata, begini”kidul niku kok dipun tempati tepak, keranten
niku roto lan wiyar”. kemudian pak Swaten jawab“nggih dipun dol puniko nggadahe pak Ardi cumake sampun dipun
nawis 1100 rupiah niku, seng nawis pak San Carat, niku”, kemudian
beliau tutup dengan harga Rp 1200,-, cumak pak Ardi masih minta sak tancepe
langgar angkring untuk jariyahnya, dan beliau menyetujuinya. Beliau mengarahkan
tempat di disebelah timur pondok termasuk pojok kidul wetan. Pada
waktu balik buku di pendapanya pak Ji’ah, pak Ardi tanya kepada pak lurah “opo gak di dewekno bukune, buku jariyahku, bumi sak pancepi
langgar angkring”, pak lurah Sanali menjawab “mboten ngangge, mung sak monten mawon, ketanggungan”.
KH. Mohammad Bahruddin
berani membeli dengan harga lebih, karena menurut predeksinya, beliau dapat
menderikan masjid yang pertama. Kalau itu terwujud maka, ajaran thoriqoh
Naqsabandiyah Mujadiyah Kholidiyah dapat terjaga dengan baik, itu pertama.
Kemudian yang Kedua, ajaran syari’atpun juga demikian, karena kalau bukan KH.
Mohammad Bahruddin sendiri yang mendirikan, beliau tidak akan berani menutup
pintu masjid, setelah sholat jum’at, amalan-amalan dan wirid-wiridan. Karena merasa tidak ikut mendirikannya.
Tetapi Karena beliau sendiri yang mendirikan, sehingga beliau berani mengunci
pintu masjid, untuk melaksanakan Tawajuhan.
Kemudian setelah tanah
terbeli, KH. Mohammad Bahruddin mendirikan Langgar dan
Pondok pada waktu tahun 1955, secara bersamaan. Keduanya terbuat dari bambu
atau bongkotan, dimana bahannya langgar diambil dari Ngoro, dan bahannya pondok
diambil dari Juwet, pada waktu pendirian Langgar-Pondok,
beliau minta bantuaan tenaga dari masyarakat sekitar (soyo). Tetapi ternyata pada pelaksanaannya hanya
sedikit yang datang diantaranya pak Jama’i (H. Dul Ghoni), dan pak Ardi,
sedangkan pak Jasim (red. Tetangga), aja tidak datang. Sedangkan yang membantu
dari Juwet-Porong adalah Kang Mustajib, adik Asro, adik Slamet, pak Waras, pak
Lim, dan kang Tholib. Dan yang dari Ngoro adalah Sarmadan, Ngetrep, Ahamad
Jazuli, Sedati, pak Maikah, Ngetrep, dan pak Maksum, Sudimoro. Adapun
konsumsinya tenaga yang dari Ngoro, dikirim dari pondok Ngoro demikian pula
tenaga dari Juwet.
Pada waktu KH. Mohammad
Bahruddin masuk desa Carat, disana hampir semua rumah memelihara anjing, ketika
beliau melihat keadaan yang seperti itu, beliau tidak langsung melarangnya,
akan tetapi beliau memberikan pelajaran bagimana cara mensucikan najis anjing
tersebut. Kemudian pada waktu Gestapu anjing
tersebut habis total. Beliau ketika mau mengerjakan sholat selalu berpindah
kadang di ke Gempol satu kali tempo ke Ngoro.
Alhamdulillah
Pembangunan mushalla Pondok selesai pada tahun 1955 M. bertepatan bulan
tasyrik. Kemudian beliau diperintahkan (red. K. Kalam), untuk berangkat ke
Carat sendirian, ada temannya yaitu malaikat.
Kemudian K. Kalam
memerintahkan adik KH. Mohammad Bahruddin (Asro) untuk menemani beliau di waktu
malam hari dan itu hanya berlangsung selama 5 hari, karena Asro tidak kerasan.
Mengetahui adiknya tidak kerasan, beliau menyuruhnya pulang, waktu sampai
dirumah ayahnya bertanya kepada Asro “kon kok yaene kok wis muleh?,
sopo rewange kakangmu Bahrudin ?, sopo ?” kemudian Asro
menjawab “mboten wonten rencangipun” kemudian K. Kalam
menangis, dan langsung berdo’a “ya Allah mugi-o Allah paring
rencang dateng yugo kulo Mohammad Bahrudin”,dan bersamaan
dengan itu K. Kalam tidak bisa tidur semalaman, karena memikirkan KH. Mohammad
Bahruddin.
Dan perkiraan Asro
sampai dirumah Juwet, ± ½ jam, orang tuanya pak Jasim (mbok Royah),
membangunkan pak Jazim, begini “Sim-Sim tangiho, wong lor iku,
gak nok abane, antarane kok onok ewange, yo onok abane, ewangono, poo Sim,
kono, Sim, abane gak onok ewange”, dan pak Jasim mau datang,
untuk menemani KH. Mohammad Bahruddin. Beliau bangga sekali, karena ada yang
menemani, dan kebanggaan beliau kalau di ibaratkan seperti orang menemukan mas,
sebesar gunung kecil, dan itu merupakan do’a orang tua, yang langsung di
kabulkan oleh allah, sehingga do’a restu orang tua, tetap menjadi harapan kita
semua, hal itu, sesuai dengan sabda nabi Muhammad SAW dalam kitab Kasyifatu as Sajaa,
وفى ا لحديث لايرث قضاء الا دعاء ولا يزيد فلا عمرالا البر
“Tidak ada yang bisa
menolak qodlo (ketentuan allah) kecuali do’a, dan tidak yang menambah umur
kecuali kebaikan”.
Oleh karena itu kita
semua jangan bosan-bosan untuk meminta (berdo’a) kepada Allah Swt.
G. Kiprah, Fitnah, Tantangan,
dan solusi KH. Mohammad Bahruddin
KH. Mohammad Bahruddin
mengalami sendirian di Carat ± 2 ½ tahun, dan pada waktu sendirian, beliau
mengumpulkan orang untuk di ajak menjalankan jum’atan, dan pada waktu itu ada
12 orang, yang mau yaitu beliau sendiri (KH. Mohammad Bahruddin), pak Temo, pak
Moden, pak Dol, pak Jasim, pak H. Abd. Ghoni, pak Tun, pak Padri, pak Ni, pak
Tulus atau pak Salam, kang Maksum dan Pak Sarmun. Sedangkan dari pemuda ada 7
orang yaitu Sutejo, Danu, Poniman, Sabar, Mulyo, Amari dan kang Jaiz.
Pada waktu itu di Carat
masih belum ada perkumpulan jum’atan, sehingga beliau kalau mau menajalankan
jum’atan tidak tetap, kadang dimasjid Gempol satu kali tempo ke Ngoro, dan itu
dilakukan dengan jalan kaki.
Pada waktu sendirian di
Carat, satu kali tempo, beliau kangen kepada istri, kemudian setelah maghrib
belaiu mengajak Amari ke Ngoro, dan disana tidak lama ± ¼ jam, kemudian kembali
lagi ke Carat untuk mengimami sholat isak.
KH. Mohammad Bahruddin
membuat kamar mandi, yang pertama hanya tempatnya air saja, dengan atap damen (daun padi), dan cagaknya dari pohon banten,
dan pada waktu itu orang yang akrab dengan belaiu ada 6 orang yaitu pak Jasim,
pak Tun, pak Tulus, pak Salam, pak Ni, dan pak H. Abd. Ghoni.
Kemudian pemuda yang
dekat dengan beliau ada 6 pemuda, yaitu Danu, Sutekso, Buadi, Sabar, Kaban, dan
Amari.
Kemudian lama-kelamaan
beliau bisa membuat rumah, cumak rumahnya masih sederhana dengan
menggunakan cagak bongkotan dan atap
alang-alang gedek.
Dalam menapaki
perjuangan beliau, tidak terlepas dari beberapa fitnah, pertama, beliau dituduh zina, kedua, dituduh korupsi, ketiga, dituduh bersekongkol dengan pencuri. Itu
semua merupakan fitnah dan fitnah itu lebih kejam hukumannya dibandingkan
dengan pembunuhan, sesuai dengan firman Allah yang berbunyi :
الفتنة أشد من القتل (۲:۱۹۰)
Orang tua KH. Mohammad
Bahruddin Ngoro, merupakan ahli tirakat (tidak
makan nasi) itu selama bertahun-tahun, mulai waktu dipondok sampai mempunyai
istri dan dua anak, sama seperti KH. Mohammad Baruddin, bahkan mungkin lebih
berat KH. Mohammad Bahruddin, karena beliau tidak bisa bertemu dengan istri.
Kemudian kalau orang tua KH. Mohammad Bahruddin (Juwet-Porong) adalah
ahli ziarah kubur, mulai dari sunan Ampel, Giri, Batu ampar, dan Bungkul, itu
dilakukan paling sedikit 8 hari sekali, dan disana selama 8 hari. KH. Mohammad
Bahruddin juga sama, tetapi tidak 8 hari melainkan 8 menit.
Dan keterangan beliu
bisa di cross-cekh sesuai dengan tempat dan kepada orang
yang selevel beliau.
KH. Bahruddin, waktu
membuat batu bata ditemani oleh pak Jasim, dan beliau sangat semangat sekali
sampai-sampai meninggalkan sholat isyrok, selama ± 5 isrok, karena beliau
kepingin pembangunan segera selesai, niat beliau pada waktu itu adalah “kulo niat nyitak boto kangge tempat ngaji ferdlu kerono alloh”, Kemudian
beliau sadar dan berpikir la iyo ngaji iku perlune opo ?
Kan cek faham antara sing wajib, sunnah, boleh, makruh, haram lan sing bathil (tidak
baik), aku roh sholat isrok, tapi ndak tak lakoni berart”i « aku iki belani kurungan yakni lus-lus kurungan manuke
(isyrok) iku ucul » mulai sejak itu, KH. Mohammad
Bahruddin tidak lagi meninggalkan sholat isyrok, karena menurut beliau ketika
berani meningal sholat isyrok maka akan merambat, ke sholat-sholat sunnat
lainnya. dan itu oleh beliau dihukumi kecopetan.
Beliau ingat firman
Allah dalam al qur an,
وماالحياة الدنيا الا متاع الغرور
Tidak ada kehidupan di
alam dunia kecuali hanya kenikmatan yang semu (QS. Al Imron, Hal. 184).
Pada waktu mau menaikkan
kayu dan balungane pondok, beliau minta bantuan tenaga pada pak Gin, tapi naas pak Gin kena hukuman jaga tiga malam
berturut-berturut, dari perangkat desa, karena tidak ikut bersih desa, tetapi
justru ikut membantu KH. Mohammad Bahruddin.
KH. Mohammad Bahruddin
mempunyai seorang murid syari’at namanya Amari putranya mbok Pah Carat, suatu
ketika Amari, minta izin untuk ikut sekolah ke Gempol, tapi naas karena
diketahui Kamituwo (Wak Asro), kemudian
Amari dihadang dan dibawa kependapa kamituwo. Dan disana Amari dimarahi
habisan-habisan, akhirnya hal itu oleh beliau dilaporkan kepada ketua ranting
NU (Maksum), akhirnya selesai dan Amari bisa sekalah lagi dengan aman.
Suatu ketika ada
penghinaan kepada KH. Bahruddin, pada waktu beliau pulang dari rumahnya pak H.
Abd. Ghoni, ada orang disawah, kemudian ketika melihat beliau orang itu
langsung mengucap begini “aku durung sembahyang ‘asar
aku”
Kemudian penghinaan yang
ditujukan kepada ibunya Kyai Sholeh, dengan cara cakap-cakap dengan temannya
begini “kon ojok gandangan ae onok wong putihan liwat opo gak isin kon” dan
pada waktu beliau mengawali ke pemakaman, kemudian ada orang yang berucap
dengan lantang “ya….!!” Hal itu dilakukan dengan sengaja, tapi semuanya itu
beliau hadapi dengan santai saja. Kemudian ada sebagian orang yang bilang sama
cucunya begini “kon nek nakal-nakal, nek laki tak lakekno
oleh santri kapok kon !!” (red. kamu kalau nikah tak nikahkan
dengan santri), seakan-akan image yang
terbangun santri itu jelek, padahal modalnya santri itu banyak, apabila dibandingkan
dengan dengan biaya sekolah formal.
Selanjutnya dalam
perkembangannya, orang-orang Carat-Raos, sudah banyak yang insyaf,kemungkinan hanya 20 % yang belum, hasil
penyelidikan beliau apa penyebab orang-orang sama insyaf ?, hasilnya adalah
karena, pertama, tidak menghina orang yang tidak
sholat, kedua, tidak menghina anjing, ketiga, sebab sembur suwuk, keempat, mulai mau belajar kepada anaknya,kelima, setiap ada kematian mau ta’ziyah dan mau
memberikan kesaksian dan memaafkan,keenam, anaknya
yang tholabul ilmi diajari tidak boleh berani kepada orang tua, ketujuh, minta
hujan lalu terkabulkan.
Kemudian dalam
perkembangannya beliau benyak menerima kiriman bantuan, antara lain,pertama, beliau dapat kiriman batu bata, tapi
tidak jelas siapa yang mengirim batu bata tersebut, kejadian itu berawal dari
kegelisahan beliau karena melihat pembangunan yang belum selesai, kemudian
tiba-tiba datang dua cikar dengan membawa batu bata yang bagus-bagus. Dan batu
bata tersebut oleh KH. Mohammad Bahruddin digunakan untuk membuat kamar mandi
putri. kemudian beliau mulai mengusut dari mana, batu bata tersebut, kemudian
beliau menanyakan hal itu kepada pak Aminah “sampean sing inggal niki
kirim banon dateng panggenan kulo” kemudian mbok Aminah tidak
menjawab, justru bingung dan tingak-tinguk. Mbok Aminah ini yang biasanya
memberi KH. Mohammad Bahruddin dua bencar padi., Kedua, beliau dapat bantuan langgar angkring cagak
empat, kemudian bantuan tersebut dijadikan langgar putri. Bersamaan dengan
adanya gestapu PKI tahun 1966 M. beliau bisa membuat
serambi masjid, tetapi kapanitiaan masih belum terbentuk, karena sangat minim
dan lemahnya umat islam. Beliau menyelasikan pembangunan tanpa menggantungkan
pada bantuan desa, tetapi belaiu megantungkan semuanya hanya kepada allah, لاحول ولا قوة الا بالله العلي العظيم cumak kanggo dohir ahlusunnah
waljama’ah termasuk tiang ahli toriqah naqsabandiyah. Kemudian
pada waktu mau mondasi, setelah jum’atan, beliau mengumumkan kepada jam’ah,
dengan harapan mereka mau membantu. Tetapi ternyata orang-orang dusun yang ikut
membantu pembangunan tersebut hanya empat orang yaitu, kang Teporejo, Bi’I,
Carat, pak Tamar, Ngabei, Raos. Dan dapat bantuan dari dusun sebesar Rp 450,-
uang tersebut digunakan untuk membeli batu kapur dan untuk membayar tukang,
bantuan itu diantarkan langsung oleh pak Slawir (Pamong). Selain itu beliau
juga ikut nukang, karena menurut pertimbangan beliau yang membantu hanya
sedikit.
Kemudian dalam
perkembangannya orang-orang Carat-Raos, mulai mau diajak gotong-royong untuk
menyelesaikan tempat ibadah. Seiring dengan hal itu, beliau berkeinginan untuk
mendirikan masjid, dalam hati, beliau berkata “pokok ono jagak papat dawane
sangang meter punjul, insya alloh bakal wujud niku masjid” selang
bebarapa waktu kemudian, beliau dapat aqiqah kambing dari H. Ibrahim, dan
beliau pikir-pikir “la iyo wedos iki, ketimbang
dipangan aggur-angguran, alok digawe nglumpukno umat islam Carat lan Raos,
terus diajak moco sholawat nariyah yo iku akhehe 4444, lha yo enak, terus
diajak dungo nang alloh supoyo masjid cepet selesai”. Dan
rencana tersebut berjalan sesuai rencana yang diinginkan yaitu membaca sholawat
nariyah.
Kemudian beliau dapat
bantuan pohon kepoh yang dijadikan tapal batas dusun Kentongan, yang rencananya
pohon tersebut digunakan untuk cagak (4) dan sisanya dipakai untuk membakar
batu bata.
Pohon Kepoh tersebut
merupakan permintaan KH. Mohammad Bahruddin kepada pak Sanalim (Mantri alas),
dan di perbolehkan, kemudian pak Sanalim menyerahkan (pasrah), kepada beliau
terkait dengan kejadian-kejadian yang mungkin terjadi (wonten demite), setelah
pemotongan pohon itu nanti, yang bisa mengganggu masyarakat, kemudian beliau
sanggup untuk mengatasinya, dan sebaliknya beliau juga menyerahkan (pasrah),
kepada pak Sanalim, soal gangguan orang-orang sekitar, dan pak Sanalim sanggup,
sehingga beliau dibuatkan surat resmi. Dan sebelum pohon tersebut di tumbangkan
terlebih dahulu beliau bacakan surat yasin 41x bersama dengan umat islam
Carat-Raos dengan perantara air, kemudian air tersebut di siramkan kepohon
Kepoh tersebut.
Kemudian setelah sholat
jum’at beliau mengumumkan kepada jama’ah terkait dengan pemotongan pohon
tersebut, dan yang memotong adalah umat islam Carat-Raos, selama dua hari
penuh. Kemudian menurut riwayat pohon Kepoh tersebut, yang di riwayatkan oleh
pak Saniah sebagi sesepuhnya orang Carat, itu sudah 9 orang yang meninggal
sebab memotong pohon tersebut, dan anehnya pohon tersebut ketika dipotong dapat
separo pohon tersebut bisa pulih seperti semula, dan beliau menyaksikannya
sendiri.
Hasil iuran batu kapur
orang-orang dusun, mulai terkumpul sebanyak 1 tong, dan itu digunakan beliau
untuk melanjutkan pembangunan tembok masjid, dimana sebelumnya sudah mempunyai
batu bata banyak, yang sebagian untuk pembangunan dan sebagian lagi dijual untuk
kebutuhan yang lain. Pada waktu itu kepanitiaan sudah terbentuk, sehingga beban
beliau semakin ringan. dan pertama kali yang dibangun oleh beliau adalah
serambi, karena menurut pertimbangan beliau kalau masjid yang didahulukan,
dikawatirkan nanti orang-orang berbicara urusan duniawi disitu.
Karena menurut sabda
nabi Muhammad saw dalam kitab Tankih,
فى المسجد افضى الله اعماله أربعين سنة (تنقح القول, ص: ۲۱) من تكلم بكلام الدنيا
Artinya: Barang
siapa berbicara urusan dunia didalam masjid, maka allah menghilangkan amal
kebaikannya selama 40 tahun (Tanqih al Qoul, Hal, 21).
Pada waktu penggalangan
dana jama’ah thoriqoh yang banyak memberikan dukungan dana dibandingkan dengan
yang bukan jama’ah thoriqoh, bahkan ada salah seorang jam’ah (namanya
dirahasiakan), yang amat serakah dalam urasan membantu pembangunan tempat
ibadah, maunya di kuasai sendiri. Sedemikian itu keikhlasan orang-orang ahli
thoriqoh naqsabandiyah yang mendapat pertolongan dari Allah SWT.
Kelebihan-kelebihan yang
dimiliki KH. Mohammad Bahruddin pada waktu berjuang antara lain, pada
waktu musim kemarau panjang beliau mengajak orang-orang untuk meminta kepada
Allah supaya diturunkan hujan, akan tetapi suwara orang-orang yang tidak suka
kepada beliau luar biasa, dengan kata-kata penghinaan, begini “awas onok banjir bandang sebab onok wong jaluk udan” dan
kata-kata itu hampir satu kampung. Kemudian ternyata setelah isya’ hujan turun
dengan deras, sampai terjadi banjir, akhirnya suwara orang-orang berbalik,
begini “ngeneki, mungguho ngekei pak kyai bahruddin, rong pencar
dang gak rugi“, cumak itu hanya sebatas ucapan, tidak ada
bukti, tapi beliau tidak begitu mengharapkan pemberian mereka, yang terpenting
bagi beliau, adalah tidak dihina, itu sudah cukup.
KH. Mohammad Bahruddin
menikah pada tahun 1950 waktu berumur 24 tahun dan sampai tahun 1978 M beliau
di karuniai 12 putra. Pertama, Mohammad
Sholeh, lahir tahun 1953 M, kedua,Mohammad
Ansor, lahir tahun 1956 M, ketiga, Mohammad
Mansyur, lahir tahun 1958 M, keempat,Gufron,
lahir tahun 1961 M, kelima, Siti
Mariam, lahir tahun 1963 M, keenam, (meninggal), ketujuh,Mohammad Dhofir, lahir tahun 1967 M, kedelapan, Mohammad Ridlwan, lahir tahun 1970 M,kesembilan, Achmad fatah, lahir tahun 1972
M, kesepuluh, Siti Habibah, lahir tahun 1974 M,kesebelas, Mohammad Misbah, lahir tahun 1975 M,
dan kedua belas, Siti Munifah. Kemudian putra beliau
yang meninggal dunia berjumlah tiga, yaitu Mohammad Ansor, Siti Habibah, dan
yang keluron. Jadi sekarang putra-putri belaiu berjumlah 9 orang.
Lahu Al-Faatihah








